Uang Darah!

24 Nov 2008

Uang Darah by /hmt

Pagi menjelang siang hari di pertengahan tahun 1998, tepatnya saya lupa :) berangkat dari kantor Telkom Japati Bandung dengan mengendarai sepeda motor teman satu kuliah, di mana saat itu kami memang sedang mengerjakan proyek IN Billing (Billing telepon Premium Call), setelah mendapat izin dari Boss untuk menghadiri sidang Tugas Akhir seorang teman di kampus Dayeuhkolot. Berhubung jadwal sidangnya hanya kurang dari sejam lagi, maka saya pacu sepeda motor, tapi tetap saja nggak sekencang para gank motor :) . Jalan Wolter Mongonsidipun terlewati dengan lancar hingga perempatan lampu merah jalan Ahmad Yani yang berrambu kuning.. belum merah.

Saat melintasi perempatan tersebut ternyata tiba-tiba lampu berganti merah, tapi aku tetap melaju karena memang nanggung untuk mengerem mendadak, aku lihat Vespa yang berada di depanku lebih sedikit tapi masih irisan dengan motorku juga terus melaju hanya saja sayangnya mobil yang sejajar dengan aku malah berhenti. Perempatan sukses aku lewati karena memang sesuai perhitungan masih ada jeda untuk kendaraan dari arah lain melewati perempatan tersebut, baru saja berbelok ke kiri memasuki jalan Terusan Buah Batu.. “Priiittt..priittt..”, bunyi peluit dari sepeda motor disebelahku dan tentu saja aku kaget yang nyaris gelagapan, untungnya masih bisa menguasai diri. Ternyata seorang polisi yang memintaku memutar balik dan mengikutinya kembali ke arah perempatan tadi.

Sesampainya pada tempat yang dituju oleh polisi tersebut, ia meminta aku untuk mengeluarkan SIM dan STNK. Akupun mengeluarkan dompet untuk mengeluarkan STNK dan SIM, saat membuka isi dompet tersebut, kebetulan polisi itu sempat melihat isi dompetku yang hanya 20 ribu perak. STNK yang memang telah dibekali oleh yang punya motor bisa aku tunjukkan hanya saja SIM C aku nggak punya (nekat abis.. :) ), maka aku keluarkan SIM A yang sempat aku buat dari penyelenggara SIM kolektif belum lama ini.

Lah.., kok SIM A yang dikeluarkan.. Mana SIM C nya?” bentak polisi tsb.

Maaf Pak.. adanya SIM A, kalau SIM C aku nggak punya..“, rada gugup aku menjawabnya.

Ya..sudah motornya kami tahan, nanti bisa diambil.. setelah sidang tilang

Wah Pak, jangan dong Pak.. memangnya salah saya apa?

Kamu ini pakai nanya salahmu apa… tadikan jelas-jelas kamu menerobos lampu merah!

Iya Pak, maaf… tadikan masih nyala kuning lagipula saya buru-buru ingin menghadiri sidang tugas akhir, mohon kebijaksanaan Bapak.. lagipula ini motor teman saya Pak, kalau motor saya sendiri nggak apa-apa ditahan… Jangan ditahan dong… Nanti saya sidangnya jadi terlambat Pak“, pinta saya dan dengan sengaja tanpa jelasin kalo yang sidangkan teman..yang penting nggak bohong.. :D

Ya..sudah begini saja, saya minta 20 ribu“, pinta polisi tanpa basa_basi.

Mahal amat Pak, kan Bapak tahu isi dompet saya hanya 20 ribu doang“, saya memelas. Memang sich di dompet ada 20ribu doang yang lainnya masih di kantong celana, karena sudah jadi kebiasaan saya naruh duit senangnya di kantung celana daripada di dompet.

Itukan sudah murah, coba dibandingkan dengan resiko tertabrak“, polisi itu nggak mau ngalah.

Tapikan saya mahasiswa Pak, lagipula biasanyakan cuma 10 ribu doang Pak

Anda cerewet yach.. ya..sudah motor saya tahan saja“, polisi itu mulai kesal.

Baik-baik Pak.. ini 20 ribu..“, aku juga kesal dan segera memberikan uang tersebut.

Anda tahu tidak, yang 10 ribu ini adalah uang karena anda tidak punya SIM..yang 10 ribunya lagi Uang Darah“, jelasnya dengan berbinar saat menerima uang tersebut.

Lah kok bisa disebut Uang Darah Pak?”, tanyaku penasaran.

Ya..iyalah (masak iya-iya dong :red) kalo terjadi apa-apa saat anda nekat melewati lampu merah tadi, minimal anda akan terluka dan berdarah.., sebagai tebusannya.. ya.. uang ini” jawabnya.

Oh..alah.. itu toh..oke deh Pak… Terima Kasih“, sambil menerima STNK darinya aku pun memacu motorku kembali.

Ada-ada saja”, batinku selama perjalanan ke kampus. Setelah membahas ‘Uang Senyum‘ kemarin, istilah Uang Darah baru kali ini aku tahu dan tanpa sungkan perkataan tersebut kelaur dari seorang polisi. Dalam peristiwa ini memang posisiku mungkin dalam keadaan bersalah menurut versi polisi tersebut tapi aneh rasanya dengar kata-kata Uang Darah. Bagaimanapun juga Yang dimaksud Uang Darah tersebut Uang Haram. Kalau bisa jangan mengikuti jejak saya ini yang mau berdamai dengan polisi tersebut. Bagaimana bila uang itu di makan anak dan istrinya, secara tidak langsung saya berdosa. Dan cukup sekali ini saja saya ditilang. Mungkin rekan-rekan punya pengalaman ditilang dan damai jalan keluarnya dan apa pernah mendengar kata-kata Uang Darah juga? (/hmt)


TAGS uang darah uang darah damai tilang SIM STNK polisi


-

Author

Follow Me